Total Tayangan Halaman

Rabu, 18 Mei 2011

cerpen lagi.........

Luka……
Perkenalkan namaku vita, oarng bilang tampangku sich lumayan dan baru beberapa minggu ini aku konsisten memakai jilbab. Walaupun bukan jilbab lebar tapi aku terus berusaha agar lebih baik dalam berpakaiaan. Hari ini kebetulan dosen yang seharusnya mengajar dikelasku tidak hadir jadi aku dan teman-temanku memeutuskan untuk nongkrong di taman kota sambil menunggu waktu pulang tiba. Taman kota tak jauh letaknya dari kampusku tercinta, cukup 5 menit kami sudah berada di taman kota. Taman kota masih agak sepi karena saat itu sang surya masih bersinar terang, panasnya cukup membuat enggan orang-orang untuk keluar rumah. Di taman kota ada beberapa penjual pentol yang memang selalu nongkrong di situ, tanpa ba bi bu kami pun langsung menyerbu paman pentol. Seperti anak kecil kami sibuk menikmati pentol dan membeli susu kedelai faforitku, tampak beberapa mata menatap heran kea rah kami. bagaimana tidak teman-temanku banyak yang lebih tua dariku jadi orang-orang merasa sedikit heran kenapa orang segede itu masih bertingkah layaknya anak-anak.
Setelah puas menikmati pentol kamipun duduk bersantai sambil berfoto-foto ria. Tak sengaja kami melihat sepasang kekasih yang sedang asyik berdua-duan. Temanku dinda mencetuskan ide yang bagus yaitu menggangu pasangan itu. Dengan pedenya kamipun menghampiri pasangan itu, jarak kami begitu dekat mungkin hanya beberapa langkah saja. Setelah jarak kami dengan pasangan itu cukup dekat kami pun langsung terbahak-bahak dan sengaja mengobrol dengan volume suara maksimal. Pasangan itu menatap kami dengan tatapan aneh dan kemudian mereka pergi menjauh dari kami. sepeninggal pasangan itu kami pun puas tertawa terbahak-bahak. Rencana kami menggangu pasangan itu sukses berat, kami pun berjalan kembali sambil mencari-cari sasaran selanjutnya.
Kami sampai di taman kota bagian belakang, karena merasa capek kamipun berhenti di bawah sebuah pohon untuk menikmati pemandangan yang hijau itu. Di taman ini masih ada banyak pohon rumput pun bertebaran di mana-mana sepertinya taman ini kurang di urus tapi tetap saja banyak pasangan muda mudi yang berminat mojok di tempat ini. Apalagi di malam hari taman kota bagian belakang ini sangat minim penerangan, tak ayal banyak pasangan yang berminat berdua-duan di tempat ini. Para satpol PP pun sering mendapati pasangan yang berbuat macam-macam di tempat ini. Bila difikir-fikir aneh juga kenapa mereka melakukan perbuatan yang tidak terpuji itu di sini, apakah tidaka ada tempat yang lebih baik. Kami pun tertawa mebahas hal ini memang anak muda jaman sekarang terlalu bebas, itulah pendapat kami.
Sejak aku memakai jilbab maka lengkaplah jumlah cewek yang memakai jilbab di kelasku, hanya ada beberapa orang yang non muslim yang tidak mengenakan jilbab dikelasku. Senangnya hari ini kami bagai sekumpulan jilbaber yang nyasar di taman kota. Setelah memandang sekeliling kami menemukan sekelompok muda-mudi yang cukup unik. Mereka semua sibuk jeprat-jepret dengan kamera yang cukup mahal kelihatannya, bahkan ada yang sengaja mengajak pacarnya sebagai model. Kami yang tidak tahu masalah photografi pun hanya bisa melonggo melihat gaya mereka membidik objek, dan yang lebih menggelikan adalah salah seorang model yang dandanannya cukup menor, menggunakan baju sexy dan warnanya  cukup mneyialukan mata. Ada juga model yang sengaja melompat-lompat tidak jelas.
Bagi kami tingkah mereka sedikit aneh, walaupun aku menyukai foto terutama foto tentang alam seperti sunset, pemandangan, sunrise atau bunga-bunga tapi aku tidak melihat ada yang menarik dari model-model yang saat ini sedang mereka ambil gambarnya. lama-lama kamipun bosan melihat kelompok itu, kemudian ada sekelompok gadis yang menarik perhatian kami. bila dilihat mereka seperti sekumpulan anak-anak sma yang baru pulang les atau eskul. Mereka masih memakai seragam pramuka dan meraka menghampiri 2 orang cowok yang juga berpakaiaan pramuka. Kami menebak-nebak bahwa mereka sedang mengajak kenalan cowok itu.
“hai namaku iis”celoteh temanku menirukan gaya gadis itu.
“hahahahahahahaha” tawa kamipun meledak melihat gaya genit iis.
Memang di antara kami iis lah yang paling gokil dan tidak malu-malu malahan malu-maluin. Sambil membahas tugas-tugas kampus kami selalu memperhatikan orang-oreng di sekitar kami. kelompok fotografi yang tadi kami perhatikan kini berpindah tempat di belakang kami. tanpa kami sadari mereka sibuk menjepret-jepret kea rah kami. kami baru mneyadari saat yossi berdiri berbalik arah, dia tertawa-tawa dan kembali duduk. Kemudian yossi bebisik pada kami bila orang-orang sedang memfoto kita. Sontak kamipun tertawa, mungkin bagi sebagian orang kami terlihat aneh karena kami berlima duduk berjajar di bawah pohon dan kami semua menggunakan kerudung dengan warna yang sama. Kata salah satu teman cowokku kami terlihat seperti anak panti asuhan. Tapi kami tidak menganggap pernyataan teman kami itu, karena bagi kami hina-menghina adalah hal yang biasa dan tidak perlu dimasukan kedalam hati.
Karena langit yang sudah memerah kamipun memetuskan untuk bubar jalan, tak baik berada di luar rumah saat adzan magrib itu adalah pesan ibuku yang selau kuingat. Kamipun berpisah jalan untuk kembali kerumah masing-masing dengan senyum yang mengembang di bibir karena kami masih GR telah menjadi objek foto. Sore itu langit begitu indah hanya sedikit awan yang menutupi warna kemerahan tanda sang surya menuju pembaringan, nanti malam pasti banyak bualn fikirku dalam hari. Denga perlahan kupacu motorku menuju rumah tercintaku, tapi suasana yang indah ini cukup membuatku enggan untuk cepat sampai dirumah. Kupelankan motorku, ku coba menikmati sebanyak mungkin moment indah ini. Saat menyenangkan memang selalu terasa begitu cepat tanpa kusadari aku sudah sampai di depan rumahku, dengan enggan aku memsuki rumah dan mengucapkan  selamat beristirahat untuk sang surya.
Setelah membersihkan badanku dari debu-debu akupun mengisi perutku yang sudah keroncongan dari tadi. Kebetulan hari ini ibuku membuat nasi goreng special pake telur dadar untukku, seperti orang yang kelaparan 1porsi nasi goreng dihadapanku pun raib dalam sekejap. Ibuku hanya tertawa melihat tingkagku, setelah kenyang barulah aku mengahadap sang pencipta utuk bersyukur atas semua yang telah diberikan Nya hari ini. Seperti perkiraanku mala mini banyak bintang maka segera aku buka jendela yang ada di kamarku, di depan jendela aku memandang dengan kagum benda luar angkasa itu. Entah mengapa tak bosan rasanya melihat benda itu berkelap-kelip, tak pernah hilang rasa kagumku pada benda cantik itu. Masih di depan jendela ku buka laptopku tersayang, bintang memeberikan semangat untukku mengerjakan tugas kuliah yang menumpuk .
Hampir jam10 malam ketika aku selesai mengerjakan tugas-tugas kuliahku, mataku sudah terlalu berat untuk begadang menonton film yang baru ku beli kemarin. Setelah mengucapkan selamat malam pada bintang maka akupun terlelap dalam mimpi indahku. Mimpi indah membuat malamku terasa singkat, adzan subuh membangunkanku padahal aku merasa baru saja terlelap. Dengan agak malas akupun mengambil air wudhu dan memenuhi panggilan sang pencipta untuk menghadap. Karena mata yang masih mengantuk akupun melanjutkan tidurku, maklum ini adalah hari minggu jadi aku bisa bangun lebih siang dari hari-hari biasanya. Baru saja mataku mentutup tiba-tiba HPku menjerit-jerit, entah mengapa aku merasa di saat apgi suara HPku menjadi 10kali lipat lebih nyaring.
Jgn tlat vita jln shat na, kmpl d rmhQ y
Begitulah bunyi pesan dari yossi sahabatku, setelah membals sms yossi mataku tidak merasa mengantuk lagi. Yossi paling benci bila ada salah satu dari kami yang telat saat janjian, maka akupun segera bersiap-siap untuk menghindari kemarahan yossi karena aku yang paling sering telat di antara teman-temanku. Butuh waktu lama untukku berdiri didepan kaca, karena baru belajar jadi aku sering merasa tidak PD dengan kerudung hasil karyaku. Bahkan memakai jilbab saja bisa memakan waktu satu jam untukku, setelah merasa cukup rapi akupun segera melesat kerumah yossi yang jaraknya lumayan jaug dari rumahku. Dan benar saja aku adalah orang terakhir yang datang, semua teman-temanku sudah berkumpul di rumah yossi. Dengan memakai tampang memelas akupun lolos dari kemarahan teman-teman. Tanpa mengulur waktu kamipun segera menuju tempat acara jalan santai. Acara jalan santai berjalan lancar dan tak stupun dari kami mendapatkan hadiah, tapi kami tidak merasa kecewa karena kami lebih mengutamakan kumpul bareng dari pada hadiahnya.
Setelah jalan santai acara dilanjutkan dengan pameran-pameran ada bebbagai macam makanan, produk, coklat, ikan, buku, bahkan beberapa toko ternama membuat stand di pameran ini.karena lapar stand makanan lah yang paling pertama kami tuju. Dengan sekejap perut kamipun merasa kenyang, setelah keyang kamipun melihat-lihat stand lain. Ita sahabatku snagat tertarik dengan stand yang menampilkan proses penumbuhan jamur yang biasa di jual di pasar. Setelah puas bertanya-tanya kamipun membeli coklat dan meliahat pameran photografi. Ternyata kelompok photografi ini adalah kelompok yang kami temui di taman kota kemarin. Kamipun bersemangat melihat-lihat hasil hepretan mereka siapa tahu ada salah satu foto kami, setelah muter-muter ternyata mereka tidak memfoto kami tapi mereka memfoto suasana sunset yang ada di depan kami kemarin. Kamipun tertawa karena sudah merasa GR kemarin. Pemeran ini mengharuskan kami meuliskan kesan di buku tamu, malah ada salah satu panitia yang meminta kami menuliskan nomor hape kami dan tanpa ku sadari teman-teman menulis nomor HPku karena di antara mereka akulah yang masih jumbo begitu alasan mereka.
Setelah capek kamipun pulang kerumah masing-masing. Setelah acara itu aku menjadi lebih tertarik menjepret-jepret walau dengan kamera yang hanya 10 mega pixel. Tempat yang sering ku datangi adalah jembatan, sungai,dan taman kota. Sunset adalah momen terindah untuk di abadikan menurutku, hampir semua hasil jepretanku adalah tentang suasana sunset. Melihat merahnya langit sunset membuatku merasakan ketenangan, semua masalah akan berhenti sesaat saat aku melihat sunset. Aku juga sering memfoto suasana sunrise di depan rumahku. Ya walaupun hasilnya kurang bagus tapi aku cukup senang karena bisa menyaksikan terbitnya sang surya. Beberapa kali aku dibuat minder karena kamera kelompok fotografi yang sering tak sengaja kutemui saat aku melihat sunset, keluargaku hanyalah keluarga yang sederhana jadi aku harus merasa puas dengan kamera yang aku miliki.
Tiba suatu hari saat aku nongkrong di jembatan tempat terfaforitku melihat sunset ada salah satu dari kelompok fotografi itu menghampiriku. Ringkas kata kamipun berkenalan dan bertukar nomor HP. Nama cowok itu adalah roy dan dia memiliki sebuah studio foto. Kebetulan beberapa hari lagi saudaraku ada yang menikah jadi aku meminta roy untuk menabadikan acara kelurgaku itu. Dengan adanya acara itu aku dan roy semakin dekat, roy sering menjelaskan padaku tentang fotografi dan sering mengajakku mencari objek baru yang bagus untuk diabadikan. Saat ualng tahunku yang ke-21 roy memberikan surprise party di kampusku, dan teman-temanku ikut bersengkongkol mengerjai aku. Di depan semua temanku roy menyatakan cintanya, bahkan dia memberikan sekotak coklat hati padaku. Dengan malu-malu kuterima coklat itu dari roy dan itu berarti kami resmi jadian.
Aku sudah menjomblo cukup lama karena merasa sakit hati dengan pacar terakhirku, tapi begitulah cinta saat kita jatuh cinta kita akan lupa rasanya patah hati. Semuanya terasa indah roy begitu asyik dia bisa menyesuaikan kapan menjadi teman, kapan menjadi pacar, kapan menjadi kakak. Selisih umur kami adalah 4 tahun sehingga aku merasa sangat dimanjakan oleh roy. Seiring waktu aku semakin mahir dalam jepret menjepret, roy juga selalu meminjamkan kameranya untukku berlatih memfoto. Entah berapa tempat yang sudah kami datangi, terlalu banyak kenangan indah yang kami alami, roy juga sudah akrab dengan keluargaku. Saat hubungan kami sudah berjalan cukup lama roy mengajakku untuk bertemu dengan orangtuanya. Hal ini membuatku cukup gelisah karena aku belum pernah bertamu di rumah pacar-pacarku sebelumnya.
Beberapa hari setelah roy menyatakan niatnya memperkenalkan aku kepada keluarganya hatiku masih sangat gelisah. bebagai macam fikiran jelek menghantuiku, bahkan menggangu tidur malamku. Untung roy selalu menenangkanku sehingga aku sedikit bersemangat. Tiba hari H roy menjemputku di rumah dan meminta izin pada orangtuaku untuk mengajak aku kerumahnya. Aku berusaha tampil semaksimal mungkin, berkali-kali roy memuji penampilanku karena aku memang jarang sekali mengenakan rok panjang. Dengan pujian roy rasa takutku bertemu keluarga roy semakin berkurang aku bahkan merasa sangat yakin kalau semunaya akan baik-baik saja. Tanpa ku sangka ternyata rumah roy begitu mewah, selama ini roy tampil sederhana di hadapanku jadi wajar bila aku terkejut sekali melihat keluarga roy.
Ternyata semua tidak baik-baik saja sikap keluarga roy padaku kurang baik, sepertiya mereka kecewa padaku karena kami tidak selevel. Tak banyak yang kubicarakan dengan keluarga roy, mereka seperti tidak menerimaku. Roy terlihat sangat kecewa dan meninta map yang sebanyak-banyaknya saat mengantarku pulang. Mungkin mereka Cuma perlu waktu untuk bisa menerimaku fikirku dalam hati. Melihat sikap roy yang tidak berubah sedikitpun akupun merasa cukup yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Toh kata oaring cinta tidak mengenal kasta. Hal ini tidak ku ungkapkan pada orangtuaku karena aku tidak ingin mereka merasa khawatir. Setelah beberapa bulan barulah aku merasa ada yang aneh dengan sikap roy.
Roy sekarang lebih sibuk, kami jarang menghabiskan waktu bersama mrncari objek foto baru bahkan kami semakin jarang bertemu. Awalnya aku mengira bahwa roy sibuk dengan pekerjaannya, tapi semua ketenanganku berubah ketika aku mendengar dari salah satu sahabat roy bila roy dijodohkan dengan orang tuanya. Aku semakin jatuh di lubang penyesalan ketika roy tidak mau menjelaskan apapun tentang perjodohan dirinya, bahkan roy mengiyakan saat aku mengancamnya denga kata putus. Tanpa penjelasan apapun hubungan kami berakhir orangtuaku hanya bisa binggung mengetahui ini semua. Aku tidak berani menjelaskan hal ini terutama pada ibuku karena aku tidak mau melihat mereka kecewa. Aku hanya berkata bahwa aku dan roy tidak cocok maka dari itu hubungan kami berakhir.
Baru beberapa hari berlalu terdengar kabar bahwa roy akan bertunangan tapi anehnya kau tidak mendapat undangan itu, kalupun aku menerima aku tidak yakin apa aku mampu melihat roy bertunangan dengan gadis lain. Mau tak mau aku harus meguatkan diriku sendiri, sunguh sulit saat kita sudah tergantung dengan orang lain dan kemudian orang itu pergi begitu saja tanpa permisi. Kuliahku mulai terganggu, pekerjaankupun banyak yang kurang beres. Berat badanku semakin turun dan aku semakin sering dihantui oleh mimpi buruk. Kucoba semakin mendekatkan diri pada sang pencipta tapi saat aku sendiri kesedihan itu kembali datang, bayang roy tak henti-hentinya menghantui hidupku. Tapi apa mau dikata roy sudah resmi bertunangan dengan gadis pilihan orang tuanya, bahkan aku sering melihat mereka jalan berdua.
Aku tak pernah menyalahkan roy aku hanya menyalahkan diriku sendiri, kenapa aku begitu yakin bila roy akan memeperjuangkan cintanya padaku. Aku begitu marah melihat roy menyerah pada keputusan orang tuanya, aku terus berjuang menjelaskan pada orang tuaku tentang apa yang terjadi. Tapi apa yang ku jelaskan bila aku sendiri tidak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi karena roy tidak pernah member sedikitpun penjelasan padaku. Aku coba membenarkan diri sendiri agar tidak merasa semakin sakit, aku juga tidak menyalahkan roy karena hal itu semakin mebuatku kecewa. Mengapa roy memilih aku bila akhirnya dia sendiri menyerah begitu saja.
Saat umurku menjadi 22tahun aku mendengar bahwa roy akan menikah dengan tunanggannya. Walau sudah lama berlalu sampai saat ini aku belum bisa menerima kenyataan bahwa roy menyerah begitu saja pada keputusan orang tuanya, bagaimana bisa aku mencintai anak mami sepertinya. Aku masih menanti penjelasan dari roy trntang apa yang terjadi sebenarnya, aku tidak bisa mepertahankan argumenku sendiri aku perlu penjelasan. Pernah aku berfikir nekat untuk datang ke rumah roy tapi jauh di lubuk hati harga diriku tidak mengizinkan aku melakukan hal itu. Kenapa aku harus memepertahankan kalau ternyata roy tidak mau mempertahankan hubungan ini fikirku dalam hati. Sebisa mungkin aku mengindari fotografi bahkan aku tidak pernah menyentuh photoshop yang sangat kugemari, tapi sunset selalu hadir membawwa kenangan indah bersama roy. Aku dan roy bahkan pernah berencana saat aku lulus kuliah kami akan segera menikah, roy akan mebuat studio foto sendiri dan aku bisa bekerja di manapun aku mau.
Wanita mana yang tidak bahagia saat ada seorang lelaki yang menjanjikannya sebuah pernikahan, apalagi di umurku yang tidak sedikt. Semua mimpi indah itu hancur begitu saja tanpa bisa dicegah, aku hanya berusahaa menata kembali hatiku mungkin memang roy bukan jodohku. Kusibukan diriku dengan berbagai kegiatan KKN dan juga skripsi cukup menguras tenaga dan juga otakku hingga sedikit demi sedikit aku bisa menerima kenyataan bahwa roy bukan untukku dah hidupku harus tetap berjalan pasti ada roy-roy yang lain untukku. Kabar terakhir yang ku dengar dari roy adalah kabar pernukahannya. Setelah itu aku sama sekali tidak mendengar nama itu lagi. Hal ini membautku sangat terbantu untuk melupakannnya dan juga memaafkannya. Sangat tidak nyaman hidup dalam kebencian dan juga dendam.
Tahun depan aku genap berusia 23 tahun dan aku juga akan diwisuda tahun depan, tapi sayangnya aku masih sendiri. Orang tuaku beberapa kali mebcarikanku jodoh tapi entah mengapa aku belum sreg terhadap mereka. Aku hanya ingin kuliah selesai dan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Alhamdulilah skripsiku sukses tanpa ada kendala yang berarti, hanya kerikil-kerikl kecil yang kadang meghadang. Aku wisuda orangtuaku merasa bangga padaku, aku juga mencari pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan lamaku. Sungguh allah memudahkan semua jalanku, walaupun aku kurang beruntung dalam cinta tapi allah masih sayang padaku.
Kini aku bekerja di bagian keuangan, dengan gelar SE tidak terlalu sulit mendapatkan pososi ini. tapi bukan pekerjaan namanya jika tidak adda kesulitan, aku harus banyak beradaptasi dan banyak belajar dari para senior di tempatku bekerja. Untung para senior di kantorku baik jadi aku tidak merasa kesulitan dalam beradaptasi. Saat ultahku yang ke-23 aku dikagetkan dengan kehadiran sesosok wajah yang selama ini kubenci di kantor. Dia tersenyum padaku seakan tiada salah apapun, bagaimana bisa dia seperti ini padaku ucapku dalam hati. Bagaimana dia bisa datang dan pergi semaunya, apa dia bukan manusia sehingga mati rasa.
Kemarahannku yang selama ini kusimpan menguap begitu saja tanpa bisa ku kendalikan tanganku melempar apa saja yang bisa kujangkau, roy tidak bergerak sedikitpun untuk menghindari lemparanku. Hal ini makin membuatku kesal tak cukup melempar akupun berteriak dan menangis tanpa memperdulikan sekitarku. Teman-temanku bingung dengan sikapku, mereka berusaha menenangkanku setelah itu semuanya gelap aku tidak ingat apapun lagi. Tiba-tiba aku merasa damai, tentram sungguh perasaan yang sudah lama tidak ku alami. Ada sebuah tangan yang sibuk mengusap-usap kepalaku bau minyak kayu putih juga mnyengat di hidungku. Sungguh aku ingin terus merasa damai seperti ini aku meras dilindungi, aku merasa di sayangi.
“vita……”suara lembut itu masuk di telinggaku.
Sungguh suara itu yang lama kurindukan, suara itu terlihat sangat khawatir. Setelah beberapa kali mendengar suaranya kesadaranku berangsur-angsur pulih dank u coba untuk membuka mattaku. Saat mataku terbuka kulihat wajah yang selama ini kurindukan dihadapanku, matanya terliihat khawatir dan bibirnya selalu menyebut namaku. Sayangnya wajah itu membuat luak hatiku kembali menganga dengan sisa tenaga akupun bagun, tak tahan rasanya melihat wajah itu lagi. Dia tak menghalangiku yang coba untuk duduk roy hanya memandangku tak berkedip. Temanku membarikan segelag air yang kemudian segera ku minum. Setelah cukup sadar aku kembali menatap roy, walaupun benci tapi aku rindu wajah itu. Beberapa saat kami tidak berkata apapun hanya saling menatap.
Teman-teman kantorku memutuskan untuk meninggalkan kami berdua untuk bicara. Aku enggan bicara roy pun sepertinya merasakan hal yang sama, sunyi bahkan aku bisa mendengar suara degup jantungku. Kucoba menyandarkan kepalaku di sofa karena tiba-tiba aku merasa pusing lagi. Roy yang khawatir akhirnya buka mulut.
“ta…..masih pusing ya?”tanyanya cemas.
Aku tak menjawab, kenapa roy bisa begini apa sebanarnya maunya. Hanya itu yang terus ada di otakku.
“maaf ta”katanya memohon.
Aku masih tetap diam karena ku rasakan kepalaku semakin pusing. Aku tak siap menghadai semua ini, aku berharap ini semua hanya mimpi. Mengapa dia kembali setelah semua luka dan usahaku untuk melupakannya. Tak terasa air mataku mengalir, aku memang cengeng soal cinta. Kurasakan tangan roy menghapus airmataku. Aku tak berusaha mencegah karena aku terlalu kangen usapannya, sudah lama tak ada yang menghapus air mataku seperti ini. aku merasa tenagaku semua menghilang tapi air mataku tak berhenti menetes.
“maaf ta,maafin aku, jangan nagis donk. Buka mata bentar aja biar aku jjelasin semuanya”ucap roy memohon.
Dengan tetap menyandar di sofa ku buka mataku, kulihat mata roy mulai berkaca-kaca.
“ngapain kesini?”tanyaku dengan suara sumbang
“happy b’day ya………ne aku bawain coklat hati.kamu masih inggat kan?”
Aku hanya menatapnya tak percaya,
“aku dateng buat Menuhin mimpi kita vita”ucapnya sambil tersenyum.
Mimpi? mimpi apa yang dia maksud? Tanyaku ini tertahan di tenggorokan.
“kamu udah selesai kuliah kan, kamu juga belum punya pacar, kita bakal nikah ta aku mau ngelamar kamu hari ini seperti yang kamu pengenin”katanya sambil tersenyum.
“Nikah? Siapa yang mau nikah ma kamu?”tanyaku sinis
“kamu marah ya?aku kan dah tepatin janji kok kamu masih marah sich?”roy mencoba bercanda.
Aku merasa muak mendengar kata-kata roy akupun berniat berdiri meninggalkannya tapi sayang badanku tidak mau di ajak kompromi aku kembali terjatuh di sofa. Akupun membuang muka tidak inggin mendengarkan perkataan roy lagi. Kuambil HP dan kutelepon yossi sahabatku aku inggin dia menjemputku. Roy tidak bicara sepatah katapun sampai yossi datang, yossi terkejut melihat roy dan kondisiku. Yossi pun segera mengantarkanku ke rumah, hari ini aku tidak masuk kantor karena otakku tak bisa bekerja. Karena kejadian itu aku harus berbaring di rumah selama seharian, aku bahkan tidak bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada ibuku. Aku sangat terpukul dengan kehadiran roy kembali. Saat ashar yossi menjengukku yang terbaring di tempat tidur.
“roy pengen ngomong ma kamu ta”katanya lembut
“ngomong apa si?kenapa dia dateng lagi sich?”tanyaku dongkol
“ngomongin mimpi kita ta”kata roy yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarku.
Kubiarakan roy duduk di ranjangku, dia kembali meminta maaf padaku dan dia memberikan penjelasan yang selama ini kutunggu. Ternyata roy menolak pernikahan yang diatur oleh orang tuanya selama ini roy menurut karena dia takut tidak bisa menikmati fasilitas dari orang tuanya lagi. Sampai sahabatnya menyadarkannya bahwa harta bukanlah segalanya. Roy kemudian meninggalkan orang tuanya dia berusaha dari nol dan kini dia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Dia meminta maaf kalu usahanya perlu waktu yang lama dan membuatku sangat terluka, dia juga meminta maaf karena tidak bisa menjelaskannya semuanya padaku. Roy juga sudah menjelaskan semuanya pada orang tuaku, orang tuakupun memafkan roy. Aku bimbang, sangat bimbang keputusan apa yang akan ku ambil.
Akupun mengadukan segalanya pada sang pencipta, aku mengis mencurahkan semua pada sang maha kuasa. Setelah sholat akupun mendapat keyakinan bahwa memang roy lah jodohku. Malam ini oaring tua roy datang kerumahku untuk melamar, mereka ,enjadi sanggat baik padaku dan keluargaku orang tua roy bahkan sangat berterima kasih padaku karena bisa merubah roy menjadi lebihbertanggung jawab. Mereka merestiu kami  dan meminta maaf atas sikapnya yang dulu. Ternyata bukan hanya kau yang menderita roy juga lebih menderita, bahkan roy masih mengingat dan menepati mimpi yang pernah kami buat sedangkan aku selama ini hanya membenci roy. Akhirnya aku memafkan roy dan menerima lamarannya. Beberapa bulan setelah lamaran kami resmi menikah dan kini roy memiliki studio sendiri, sementara aku tetep bekerja di bagian keuangan. Kini kami bisa pergi kapanpun, dimanapun untuk mencari objek yang indah.

Selasa, 12 April 2011

cerpen,


Sumpit in love
Setalah mendengarkan ceramah dosen yang panjang X lebar = luas (hehehehehe) perutkupun mulai protes, cacing-cacingku mulai bernyanyi lagu keroncong. Sebelum cacing-cacingku berteriak aku segera menarik sahabatku tercinta menuju tempat makan terdekat. Kebetulan kami berdua hari ini sepakat untuk menyantap mie ayam, umm…. Mendengar kata mie ayam cacing-cacing di perutku semakin protes ingin segera makan. Untung warung mie ayam langganan kami tidak jauh dari kampus jadi sebentar saja aku sudah sampai di raung itu, aku memesan mie ayam dan es jeruk kesukaanku. Beberapa saat kemudian datanglah mie ayam yang masih mengepul, aromanya sangat menggugah selera segera kami serbu mie ayam itu.
Saat sendok pertama hampir menuju mulutku tiba-tiba aku melihat seseorang yang makan menggunakan sumpit, munculah ide gilaku untuk memakai sumpit juga. Aku berfikir memakai sumpit itu mudah maka dari itu aku segera meminta sumpit pada  pelayan warung itu. Saat sumpit sudah di tanganku aku merasa agak ragu karena aku belum bisa memakai sumpit. Hani sahabatku hanya tertawa melihat tingkahku, dia menyarankan agar aku memakai sendok dan garpu seperti biasa dari pada aku memepermalukan diriku sendiri. Tapi karena penasaran maka aku beranikan diri memagang sumpit itu di tangan kananku.
Baru memegangnya saja aku sudah kerepotan bagaimana makannya ucapku dalam hati. Sumpit sudah rapi ku pegang maka ku beranikan diri mengambil ayam yang potongannya agak kecil-kecil. Beberapa kali ku coba tapi ayam itu selalu jatuh dari sumpitku, kesal rasanya maka ku coba mengambil sawi setelah cukup lama mencoba akhirnya aku bisa mengambil sawi itu. Betapa senangnya aku tapi aku masih merasa aneh dengan cara makanku. Akhirnya ku coba mengambil mie dan ternyata mie itu lebih licin jadi lebih susah. Akhirnya karena cacing-cacingku yang sudah tidak sabar maka ku letaklan sumpit itu dan segera ku santap mie itu dengan garpu dan sendok. Baru beberapa suap aku baru menyadari kalau oramg-orang di sekitarku memeperhatikan aku yang tidak bisa menggunakan sumpit.
Ooohhhh…..betapa malunya diriku, entah berubah menjadi apa warna mukaku ini. Hani juga terpingkal-pingkal melihatku. Kata hani aku sangat lucu dan dia mnyarankan agar aku belajar terlebih dahulu di rumah dari pada belajar di warung makan dan harus di lihatin oleh banyak orang. Inggin rasanya saat itu aku lari pulang tapi cacing-cacing di perutku belum kenyang jadi mau tak mau akupun melanjutkan makanku dengan malu-malu. Mie ayam hani habis terlebih dahulu, memang bila urusan makan aku selalu kalah bila di bandingkan dengan hani. Segera ku habiskan mie ayam di mangkukku sebelum hani ngambek dan pulang duluan. Steleh selesai makan cacing diperutku menjadi tenang aku dan hani segera pulang  ke rumah masing-masing. 

Beberapa hari setelah itu aku masih merasa malu bila mengenang sumpit itu, saat itu sempat ku lihat seseorang yang mengunakan sumpit itu adalah cowok ya lumayan lah penampilannya rapi dan bersih. Dan ternyata cowok itu kemarin juga tertawa melihat tingkahku dengan sumpit. Aku juga membeli sumpit untuk belajar di rumah tapi tidaka ada yang mengajariku di rumah jadi tidak ada kemajuan sedikitpun. Akupun memperingatkan diriku sendiri agar tidak menggunakan sumpit di tempat umum lagi. Beberapa kali hani menggodaku untuk menggunakan sumpit tapi untungnya aku tidak terpengaruh oleh ejekannya.
Entah sudah berapa minggu aku tidak berani mengginjakkan kakiku di warung mie ayam faforitku, malu sekali aku bila melihat penjual mie ayam itu. Hari ini hani memaksaku untuk makan mie ayam jadi mau tak mau akupun memberanikan diri untuk makan di warung itu. Aku berdoa di dalam hati semoga saja pemilik warung itu sudah lupa dengan wajahku. Ketika sampai di warung itu kami segera memesan tapi tiba-tiba hani harus pualang karena pnggilan darurat dari ayahnya. Tinggalah aku sendiri, sebenarnya aku juga ingin pulang tapi mie sudah terlanjur di pesan jadi terpaksa aku makan sendiri.
Di pojok warung itu ku lihat cowok yang waktu itu memakai sumpit, tapi kali ini cowok itu masih menunggu pesanan. Padahal aku ingin memperhatikan caranya mengunakan sumpit. Karena bosan menunggu mie dan duduk sendirian akupun mendengarkan lagu-lagu faforitku. Setelah cukup lama menunggu mie pesananku pun akhirnya tiba, hari ini warung cukup ramai ku lihat di mana-mana kursi penuh. Untung aku sudah dapat kursi fikirku dalam hati. Saat akan makan aku di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku. Dia meminta duduk di sampingku karena meja-meja sudah penuh semua. Akupun mengiyakan permintaan cowok itu toh aku juga akan segera pergi setelah mieku habis.
Tiba-tiba cowok itu mengajak berkenalan dan ternyata namanya adalah hamka, mungkin dia ngefans dengan pemain bola hamka hamza. Hamka juga kuliah di tempat yang sama denganku hanya saja saat ini dia sedang menyusun skripsi sehingga dia jarang ke kampus, pantas saja aku tidak pernah melihat wajahnya di kampus. Tenyata hamka cukup asyik untuk teman ngobrol, hamka pun menawarkan diri untuk mengajariku menggunakan sumpit. Walaupun agak malu segera ku terima tawaran itu karena aku benar-benar inggin bisa mengunakan sumpit. Cukup lama kami belajar menggunakan sumpit, hamka begitu sabar mengajariku menggunakan sumpit tak sedikitpun terlihat kekesalan di wajahnya walaupun aku sering menjatuhkan mie yang sudah ada di sumpitku.
Karena leleh akupun menyerah dan pamit untuk pulang pada hamka, tak lupa kami bertukar nomor hp agar aku bisa les menggunakan sumpit gratis. Beberapa kali kami bertemu di warung mie ayam itu, tiap bertemu tak bosan-bosannya hamka menggajariku menggunakan sumpit. Setelah hampir sebulan aku les mengunakan sumpit akupun sudah bisa memakai sumpit walaupun belum mahir tapi sudah lumayan lah. Minimal aku g akan mempermalukan diriku sendiri saat menggunakan sumpit di depan umum. Aku dan hamka pun semakin dekat. Hamka juga berkata bahwa dia inggin hubungan yang lebih serius.
Sungguh aku tak menyangka perkenalan kami yang bermula dari sumpit bisa sampai di jenjang pernikahan. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada sang kuasa karena memberikan ku pendamping hidup seperti hamka. Kami berjanji akan hidup bahagia selamanya semoga saja kami bisa menepati janji kami. amien…….   

_____

Selasa, 05 April 2011

se7en vs jung il woo


 Dulu ngefans banget ma se7en gara2 princes hours2 ampek download semua lagu na. sayang sekarang se7en g ada berita na. oiya yang paling ku suka dari se7en setianya itu lho. beruntung banget yang jadi pacar na. moga oppa cepet nikah ya,,,,,,,,amien............
Na sekarang gara2 drama 49days jadi suka ma jung il woo baru nyadar lok dia pernah main di my fair lady. di 49 days jung il woo sering pake baju item pula, duh,,,,,makin guanteng..........
ganteng mana lah se7en ma jung il woo?????????nilai ndiri z dweh,hahahahaha......

Minggu, 03 April 2011

ngarang.com 01

Kagum,,,,,,
Tiba-tiba dada ini terasa sesak seakan ada benda asing yang masuk ke dalam paru-paruku, air mataku sudah tak terbendung, tubuh ini hanya bisa terpaku walau harga diriku menginginkan aku untuk segera berlalu dari pemandangan ini. Tetes demi tetes air mataku tumpah untung ita sahabatku segera menarikku untuk segera menjauh dari tempat itu. Di atas motor air mataku tidak juga berhenti menggalir, ita menghiburku dengan berbagai macam cara tapi entah mengapa air mataku seakan tidak mau untuk berhenti menetes. Melihatku yang begitu menyedihkan ita pun membawaku ke pinggir sungai, sungai faforitku pastinya. Kami duduk diam di atas sepeda motor, ita membiarkan aku menangis sepuasnya tanpa berkata sepatah kata pun. Memang di saat seperti ini aku tidak akan mendegarkan apapun yang orang lain katakan, beruntunglah aku memiliki sahabat seperti ita yang selalu mengerti aku.
Aku bukan marah pada seseorang aku hanya marah pada diriku sendiri, sungguh bukan salah orang itu bila akhirnya aku menjadi seperti ini. Stiap orang berhak untuk menentukan siapapun yang akan di sampingnya, aku hanya terlalu berharap, aku terlalu bermimpi dan kini aku sedang terjatuh dari mimpi yang ku buat sendiri. Tak henti-hentinya aku memarahi diriku sendiri berharap hal itu akan membuat perasaanku menjadi lebih baik, tapi yang terjadi justru sebliknya semakin aku menyalahkan diri sendiri semakin deras air mata ini menggalir. Kenapa aku bisa sebodoh ini, kenapa aku berharap pada orang yang tak pasti, kenapa dia begitu baik padaku, kenapa aku bisa salah menanggapi kebaikannya, kenapa aku berfikir bahwa dia menyukaiku. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku tanpa aku bisa menjawabnya, tak ayal tangiskupun semakin meledak. Tangis penyesalan yang tidak berguna.
Akhirnya suara adzan menyadarkanku, itapun mengajakku untuk mengadap sang pencipta. Setelah mengadukan semua keluh kesahku pada sang maha kuasa perasaankupun menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit ku tata kembali suasana hatiku sungguh aku tak inggin terus menerus menangis karena ini memepermalukan diriku sendiri. Kenapa aku harus menanggis hanya karena salah satu makhluk ciptaan allah yang bukan tercipta untukku. Walau nyeri masih terasa di hatiku tapi ku coba untuk tersenyum pada sahabatku, aku tak inggin terlihat lemah kecuali di hadapan sang pencipta. Ita pun merasa lega dan menggantarkanku pulang kerumah.
Setelah membersihkan badan dan melaksanakan sholat isya akupun segera menghepaskan diri di kasur kesayanganku. Aku tidak merasa ngantuk dan aku tak merasakan lapar walau dari siang tadi perut ini belum terisi apapun kecuali air. Kucoba untuk memejamkan mata agar terlelap tapi yang terjadi justru air mata ini kembali menetas tanpa bisa di bendung semua tentang dia melintas kembali bagai rool film yang di putar. Untuk terakhir kalinya janjiku dalam hati, biarlah aku menangis mengenang semuanya hanya di malam ini bukan untuk malam-malam selanjutnya. Aku harus tetap melanjutkan hidupku dan aku tidaka akan membuat orang-orang di sekitarku mencemaskanku. Maka ku biarkan fikiranku tenggelam dalam bayang-bayang tentangnya.
Berawal dari keikutsertaanku dalam sebuah kelompok karate, saat itu aku benar-benar bersemangat mengikuti karate karena aku inggin bisa melindungi diriku sendiri di manapun aku berada. Tapi bukan berarti aku cantik dan terkenal hingga banyak orang yang mengganguku. Aku hanyalah cewek biasa di antara teman-temanku, keluargaku juga biasa, bahkan aku hanyalah seorang anak kampung, aku tidak terkenal seperti kawan-kawanku, penampilanku biasa tapi alhamdulilah allah masih memberikanku otak yang lumayan. Sungguh aku tidak menyesali semua keadaanku aku justru bersyukur karena allah masih memberikanku tubuh yang lengkap, orangtua, dan teman-teman yang menyayangiku. Tapi tak jarang aku juga inggin seperti mereka yang selalu tampil cantik dan di puja-puja para makhluk bernama cowok. Tapi aku masih bersyukur karena dengan tampangku yang pas-pasan ini teman-teman cowokku masih mau berteman denganku.
Saat latihan entah yang keberapa mataku terpana pada salah satu tubuh kurus jangkung dan keren yang berdiri tak jauh dari tempatku. Tak bosan rasanya memandang wajahnya, saat apapun dia terlihat keren di mataku bahkan ketika dia berkeringgat dan kelelahan dia tetap keren di mataku. Tak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang padanya. Rasa capekku setelah latihan tiba-tiba hilang saat melihat dia tersenyum. Apa yang sedang aku lakukan ucapku dalam hati. Meskipun otak ini melarangku untuk melakukan hal ini tapi mataku tak bisa berhenti memandangnya. Bahkan ketika dia tidak terlihat hatiku menjadi gelisah. tak inggin rasanya aku beranjak pulang, tak rela rasanya melihat dia berjalan pulang meninggalkanku yang masih larut dalam pesonannya.
Sebelum melihat cowok itu aku sudah semangat 45 untuk berangkat latihan tapi kini semangat itu berubah menjadi semangat 100. Konyol memang kedengarannya tapi itulah aku yang sedang mengagumi seseorang. Hari-hariku terasa indah, hari yang ku nantikan hanyalah hari latihan di saat aku bisa melihat gerakan karatenya yang mantap dan melihat senyumnya yang sungguh mempesona. Kenapa aku bisa kagum pada seseorang yang bahkan aku sendiri tidak tahu namanya, entahlah saat itu di mana semua indraku hingga semuanya terlihat gelap dan hanya cowok itu yang bersinar di mataku. Tiada saat di mana aku tidak memikirkannya, dan saat aku mengenangnya maka bibir ini tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Sang pengkhayal itulah julukan yang ku berikan pada diriku sendiri, sudah banyak buku-buku bekas yang ku gunakan untuk berkhayal. Entah sudah berapa cowok yang ku khayalkan menjadi pacarku tapi sampai saat ini mimpiku selalu hanya mimpi, walupun aku merasa sakit saat terjatuh dari mimpi yang ku buat sendiri tapi aku tak pernah jera aku selalu bermimpi dan bermimpi bahkan semakin lama mimpi-mimpiku semakin tidak mungkin untuk menjadi kenyataan. Kata orang mimpi adalah semangat tanpa ada mimpi hidup akan hampa, berdasarkan kata-kata itu akupun selalu membenarkan diriku sendiri untuk selalu bermimpi. Saat satu mimpiku musnah tak beberapa lama biasanya aku mempunyai mimpi baru yang lain.
Hari-hari terus berlalu, tapi semuanya tetap sama aku belum juga mengetahui siapa nama cowok ganteng itu. Tapi yang jelas kehadirannya selalu membuat semangat tumbuh berlipat lipat. Rasanya aku tak sabar menunggu pergantian hari, hari-hari tanpa melihat gerakan,wajah dan senyumnya terasa melelahkan untukku. Tidurku mulai di warnain dengan mimpi tentangnya, walaupun itu hanya di dalam mimpi aku sungguh merasa sangat bahagia seakan itu semua nyata. Aku telah terjebak dalam imajinasiku sendiri, aku terjebak dalam kebahagiaan yang semu yang ku ciptakan sendiri. Lama-kelamaan sahabatu mulai merasa curiga dengan perubahan sikapku.
Sahabatku pun mulai mencecarku dengan sejuta pertanyaan, aku tidak pernah sukses dalam berbohong mau tak mau akhirnya aku pun menceritakan semuannya pada sahabatku. Ita hanya bisa menggeleng-geleng mendengar semua ceritaku. Ita sudah sering mendengarku bercerita seperti itu sehingga dia tidak merasa heran sedikitpun, bahkan ita sudah pasti bisa menebak ending dari khayalanku yang tak mungkin jadi kenyataan. Ita hanya mengingatkanku agar aku lebih realistis dan jangan terlalu terpesona dengan wajah ganteng seorang cowok. Merasa kasihan padaku itapun mulai mengumpulkan infprmasi tentang cowok itu. Dari ita lah baru ku ketahui kalau cowok itu bernama toni dan dia baru duduk di bangku sma. Aku sedikit terkejut, kabar itu membuatku sedikit berfikir mana mungkin aku berpacaran dengan cowok yang lebih muda.
Saat latihan akupun mencoba untuk tidak memperhatikan toni, ku coba seminimal mungkin untuk memandang wajahnya. Tapi apa daya kali ini justru toni yang melatih kami, ya walaupun toni lebih muda dariku tapi toni lebih tinggi tingkatnya dariku. Mungkin memang aku yang merasa gr aku merasa toni lebih memperhatikanku dari pada teman-teman yang lain. Toni pun terlihat sering melihat ke arahku, tak ayal mimpi yang telah ku coba patahkan kini tumbuk kembali bahkan lebih subur dari pada yang dulu. Seperti mendapatkan anggin segar di kala terik matahari begitu menyegat aku makin tenggelam dalam perasaanku yang tidak beralasan. Siapa yang tidak akan luluh saat cowok impiannya terlihat lebih perhatian dan selalu memandangnya, akupun menyimpulkan bahwa toni juga memiliki suatu rasa padaku entah rasa apa itu.
Itulah kebodohanku membiarkan rasa kagumku berkembang hingga mengakar di hatiku tanpa ku coba untuk menyampaikan. Sungguh aku merasa tidak PD untuk menyampai semua rasa yang ku pendam ini. Sebagai seorang gadis aku lebih memilih menunggu pernyataan sang cowok, aku tidak punya nyali untuk mengatakan terlebih dahulu pada seorang cowok. Sementara menunggu sifat toni terlihat makin baik padaku dan hal itu semakin membuat hatiku berbunga-bunga. Memang kita tidak pernah bisa membaca fikiran dan maksud seorang cowok begitupun cowok sering tidak bisa mengartikan tindakan cewek. Aku merasa yakin kalau toni benar-benar memiliki rasa padaku hal ini kusimpulkan sendiri tanpa meminta penjelasan dari toni. Inilah yang ku sesalkan saat ini kenapa aku tidak berani menayakan perasaan toni terhadapku.
Ternyata semua sikap baik, perhatian, dan tatapannya padaku tidak berarti apa-apa toni benar-benar tidak memiliki rasa padaku. Aku benar-benar tidak percaya saat ita mengatakan kalau toni sudah memiliki cewek, bahkan ita berkata kalau aku bukan tipe toni. Katanya toni lebih suka cewek feminim, tenar, cantik dan yang pasti lembih muda dari dia. Otakku belum bisa mencerna semua kata-kata ita yang barusan ku dengar kemudian tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan yang sudah ku kenal. Bayangan yang selama ini bermain-main di otakku, bermain dalam mimpiku, dan mewarnai hari-hariku. Di sebuah kafe tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat toni menggandeng cewek cantik, feminim, dan terlihat sangat modis. Toni menarik kursi untuk cewek itu, mereka bicara sanggat akrab tanggan toni tak pernah lepas menggenggam tanggan cewek itu seakan toni takut cewek itu lepas darinya. Tak cukup dengan semua pandangan itu bahkan toni mengecup kening gadis itu.
Detik itu juga aku baru menyadari apa yang di katakan ita tadi, bumi seakan bergoyang rasanya aku tidak kuat lagi untuk berdiri. Kemudian ita menahanku dan menggajakku untuk menjauh dari tempat itu. Bagai orang tolol akupun menuruti ita, aku berjalan dengan tatapan kosong dan mataku tak henti-hentinya menegeluarkan air mata. Sungguh mnyedihkan mengigat apa yang ku lakukan sore tadi untung tadi toni tidak melihatku jadi aku tidak perlu merasa malu bila bertemu dengannya nanti. Tinggal aku yang harus mengatur kembali hatiku agar semuanya bisa kembali normal.
Akupun terlelap karena lelah menangis, adzan subuh membangunkanku yang baru terlelap 3 jam. Segera ku ambil wudhu dan menghadap sang khalik. Aku menangis di hadapannya, aku memohon ampun padanya karena telah terlena pada cinta dunia, cinta yang tidak seharusnya terjadi karena cinta yang sesungguhnya haruslah di serahkan pada suamiku kelak. Aku meminta pada sang pencipta untuk menjadikan aku makhluk yang lebih baik di hadapanNYA. Setelah curhat akupun mengakhiri doaku dan akupun siap untuk beraktifitas menyambut segalanya dengan semangat dan sudut pandang yang baru. Mungkin juga karena aku telah lelah terjatuh pada mimpi yang ku buat sendiri, akhirnya ku putuskan untuk memberikan cintaku pada keluarga, sahabatku, orang tuaku, orang-oreng di sekitarku dan suamiku kelak. Amien…………