Total Tayangan Halaman

Selasa, 12 April 2011

cerpen,


Sumpit in love
Setalah mendengarkan ceramah dosen yang panjang X lebar = luas (hehehehehe) perutkupun mulai protes, cacing-cacingku mulai bernyanyi lagu keroncong. Sebelum cacing-cacingku berteriak aku segera menarik sahabatku tercinta menuju tempat makan terdekat. Kebetulan kami berdua hari ini sepakat untuk menyantap mie ayam, umm…. Mendengar kata mie ayam cacing-cacing di perutku semakin protes ingin segera makan. Untung warung mie ayam langganan kami tidak jauh dari kampus jadi sebentar saja aku sudah sampai di raung itu, aku memesan mie ayam dan es jeruk kesukaanku. Beberapa saat kemudian datanglah mie ayam yang masih mengepul, aromanya sangat menggugah selera segera kami serbu mie ayam itu.
Saat sendok pertama hampir menuju mulutku tiba-tiba aku melihat seseorang yang makan menggunakan sumpit, munculah ide gilaku untuk memakai sumpit juga. Aku berfikir memakai sumpit itu mudah maka dari itu aku segera meminta sumpit pada  pelayan warung itu. Saat sumpit sudah di tanganku aku merasa agak ragu karena aku belum bisa memakai sumpit. Hani sahabatku hanya tertawa melihat tingkahku, dia menyarankan agar aku memakai sendok dan garpu seperti biasa dari pada aku memepermalukan diriku sendiri. Tapi karena penasaran maka aku beranikan diri memagang sumpit itu di tangan kananku.
Baru memegangnya saja aku sudah kerepotan bagaimana makannya ucapku dalam hati. Sumpit sudah rapi ku pegang maka ku beranikan diri mengambil ayam yang potongannya agak kecil-kecil. Beberapa kali ku coba tapi ayam itu selalu jatuh dari sumpitku, kesal rasanya maka ku coba mengambil sawi setelah cukup lama mencoba akhirnya aku bisa mengambil sawi itu. Betapa senangnya aku tapi aku masih merasa aneh dengan cara makanku. Akhirnya ku coba mengambil mie dan ternyata mie itu lebih licin jadi lebih susah. Akhirnya karena cacing-cacingku yang sudah tidak sabar maka ku letaklan sumpit itu dan segera ku santap mie itu dengan garpu dan sendok. Baru beberapa suap aku baru menyadari kalau oramg-orang di sekitarku memeperhatikan aku yang tidak bisa menggunakan sumpit.
Ooohhhh…..betapa malunya diriku, entah berubah menjadi apa warna mukaku ini. Hani juga terpingkal-pingkal melihatku. Kata hani aku sangat lucu dan dia mnyarankan agar aku belajar terlebih dahulu di rumah dari pada belajar di warung makan dan harus di lihatin oleh banyak orang. Inggin rasanya saat itu aku lari pulang tapi cacing-cacing di perutku belum kenyang jadi mau tak mau akupun melanjutkan makanku dengan malu-malu. Mie ayam hani habis terlebih dahulu, memang bila urusan makan aku selalu kalah bila di bandingkan dengan hani. Segera ku habiskan mie ayam di mangkukku sebelum hani ngambek dan pulang duluan. Steleh selesai makan cacing diperutku menjadi tenang aku dan hani segera pulang  ke rumah masing-masing. 

Beberapa hari setelah itu aku masih merasa malu bila mengenang sumpit itu, saat itu sempat ku lihat seseorang yang mengunakan sumpit itu adalah cowok ya lumayan lah penampilannya rapi dan bersih. Dan ternyata cowok itu kemarin juga tertawa melihat tingkahku dengan sumpit. Aku juga membeli sumpit untuk belajar di rumah tapi tidaka ada yang mengajariku di rumah jadi tidak ada kemajuan sedikitpun. Akupun memperingatkan diriku sendiri agar tidak menggunakan sumpit di tempat umum lagi. Beberapa kali hani menggodaku untuk menggunakan sumpit tapi untungnya aku tidak terpengaruh oleh ejekannya.
Entah sudah berapa minggu aku tidak berani mengginjakkan kakiku di warung mie ayam faforitku, malu sekali aku bila melihat penjual mie ayam itu. Hari ini hani memaksaku untuk makan mie ayam jadi mau tak mau akupun memberanikan diri untuk makan di warung itu. Aku berdoa di dalam hati semoga saja pemilik warung itu sudah lupa dengan wajahku. Ketika sampai di warung itu kami segera memesan tapi tiba-tiba hani harus pualang karena pnggilan darurat dari ayahnya. Tinggalah aku sendiri, sebenarnya aku juga ingin pulang tapi mie sudah terlanjur di pesan jadi terpaksa aku makan sendiri.
Di pojok warung itu ku lihat cowok yang waktu itu memakai sumpit, tapi kali ini cowok itu masih menunggu pesanan. Padahal aku ingin memperhatikan caranya mengunakan sumpit. Karena bosan menunggu mie dan duduk sendirian akupun mendengarkan lagu-lagu faforitku. Setelah cukup lama menunggu mie pesananku pun akhirnya tiba, hari ini warung cukup ramai ku lihat di mana-mana kursi penuh. Untung aku sudah dapat kursi fikirku dalam hati. Saat akan makan aku di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku. Dia meminta duduk di sampingku karena meja-meja sudah penuh semua. Akupun mengiyakan permintaan cowok itu toh aku juga akan segera pergi setelah mieku habis.
Tiba-tiba cowok itu mengajak berkenalan dan ternyata namanya adalah hamka, mungkin dia ngefans dengan pemain bola hamka hamza. Hamka juga kuliah di tempat yang sama denganku hanya saja saat ini dia sedang menyusun skripsi sehingga dia jarang ke kampus, pantas saja aku tidak pernah melihat wajahnya di kampus. Tenyata hamka cukup asyik untuk teman ngobrol, hamka pun menawarkan diri untuk mengajariku menggunakan sumpit. Walaupun agak malu segera ku terima tawaran itu karena aku benar-benar inggin bisa mengunakan sumpit. Cukup lama kami belajar menggunakan sumpit, hamka begitu sabar mengajariku menggunakan sumpit tak sedikitpun terlihat kekesalan di wajahnya walaupun aku sering menjatuhkan mie yang sudah ada di sumpitku.
Karena leleh akupun menyerah dan pamit untuk pulang pada hamka, tak lupa kami bertukar nomor hp agar aku bisa les menggunakan sumpit gratis. Beberapa kali kami bertemu di warung mie ayam itu, tiap bertemu tak bosan-bosannya hamka menggajariku menggunakan sumpit. Setelah hampir sebulan aku les mengunakan sumpit akupun sudah bisa memakai sumpit walaupun belum mahir tapi sudah lumayan lah. Minimal aku g akan mempermalukan diriku sendiri saat menggunakan sumpit di depan umum. Aku dan hamka pun semakin dekat. Hamka juga berkata bahwa dia inggin hubungan yang lebih serius.
Sungguh aku tak menyangka perkenalan kami yang bermula dari sumpit bisa sampai di jenjang pernikahan. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada sang kuasa karena memberikan ku pendamping hidup seperti hamka. Kami berjanji akan hidup bahagia selamanya semoga saja kami bisa menepati janji kami. amien…….   

_____

Selasa, 05 April 2011

se7en vs jung il woo


 Dulu ngefans banget ma se7en gara2 princes hours2 ampek download semua lagu na. sayang sekarang se7en g ada berita na. oiya yang paling ku suka dari se7en setianya itu lho. beruntung banget yang jadi pacar na. moga oppa cepet nikah ya,,,,,,,,amien............
Na sekarang gara2 drama 49days jadi suka ma jung il woo baru nyadar lok dia pernah main di my fair lady. di 49 days jung il woo sering pake baju item pula, duh,,,,,makin guanteng..........
ganteng mana lah se7en ma jung il woo?????????nilai ndiri z dweh,hahahahaha......

Minggu, 03 April 2011

ngarang.com 01

Kagum,,,,,,
Tiba-tiba dada ini terasa sesak seakan ada benda asing yang masuk ke dalam paru-paruku, air mataku sudah tak terbendung, tubuh ini hanya bisa terpaku walau harga diriku menginginkan aku untuk segera berlalu dari pemandangan ini. Tetes demi tetes air mataku tumpah untung ita sahabatku segera menarikku untuk segera menjauh dari tempat itu. Di atas motor air mataku tidak juga berhenti menggalir, ita menghiburku dengan berbagai macam cara tapi entah mengapa air mataku seakan tidak mau untuk berhenti menetes. Melihatku yang begitu menyedihkan ita pun membawaku ke pinggir sungai, sungai faforitku pastinya. Kami duduk diam di atas sepeda motor, ita membiarkan aku menangis sepuasnya tanpa berkata sepatah kata pun. Memang di saat seperti ini aku tidak akan mendegarkan apapun yang orang lain katakan, beruntunglah aku memiliki sahabat seperti ita yang selalu mengerti aku.
Aku bukan marah pada seseorang aku hanya marah pada diriku sendiri, sungguh bukan salah orang itu bila akhirnya aku menjadi seperti ini. Stiap orang berhak untuk menentukan siapapun yang akan di sampingnya, aku hanya terlalu berharap, aku terlalu bermimpi dan kini aku sedang terjatuh dari mimpi yang ku buat sendiri. Tak henti-hentinya aku memarahi diriku sendiri berharap hal itu akan membuat perasaanku menjadi lebih baik, tapi yang terjadi justru sebliknya semakin aku menyalahkan diri sendiri semakin deras air mata ini menggalir. Kenapa aku bisa sebodoh ini, kenapa aku berharap pada orang yang tak pasti, kenapa dia begitu baik padaku, kenapa aku bisa salah menanggapi kebaikannya, kenapa aku berfikir bahwa dia menyukaiku. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja di benakku tanpa aku bisa menjawabnya, tak ayal tangiskupun semakin meledak. Tangis penyesalan yang tidak berguna.
Akhirnya suara adzan menyadarkanku, itapun mengajakku untuk mengadap sang pencipta. Setelah mengadukan semua keluh kesahku pada sang maha kuasa perasaankupun menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit ku tata kembali suasana hatiku sungguh aku tak inggin terus menerus menangis karena ini memepermalukan diriku sendiri. Kenapa aku harus menanggis hanya karena salah satu makhluk ciptaan allah yang bukan tercipta untukku. Walau nyeri masih terasa di hatiku tapi ku coba untuk tersenyum pada sahabatku, aku tak inggin terlihat lemah kecuali di hadapan sang pencipta. Ita pun merasa lega dan menggantarkanku pulang kerumah.
Setelah membersihkan badan dan melaksanakan sholat isya akupun segera menghepaskan diri di kasur kesayanganku. Aku tidak merasa ngantuk dan aku tak merasakan lapar walau dari siang tadi perut ini belum terisi apapun kecuali air. Kucoba untuk memejamkan mata agar terlelap tapi yang terjadi justru air mata ini kembali menetas tanpa bisa di bendung semua tentang dia melintas kembali bagai rool film yang di putar. Untuk terakhir kalinya janjiku dalam hati, biarlah aku menangis mengenang semuanya hanya di malam ini bukan untuk malam-malam selanjutnya. Aku harus tetap melanjutkan hidupku dan aku tidaka akan membuat orang-orang di sekitarku mencemaskanku. Maka ku biarkan fikiranku tenggelam dalam bayang-bayang tentangnya.
Berawal dari keikutsertaanku dalam sebuah kelompok karate, saat itu aku benar-benar bersemangat mengikuti karate karena aku inggin bisa melindungi diriku sendiri di manapun aku berada. Tapi bukan berarti aku cantik dan terkenal hingga banyak orang yang mengganguku. Aku hanyalah cewek biasa di antara teman-temanku, keluargaku juga biasa, bahkan aku hanyalah seorang anak kampung, aku tidak terkenal seperti kawan-kawanku, penampilanku biasa tapi alhamdulilah allah masih memberikanku otak yang lumayan. Sungguh aku tidak menyesali semua keadaanku aku justru bersyukur karena allah masih memberikanku tubuh yang lengkap, orangtua, dan teman-teman yang menyayangiku. Tapi tak jarang aku juga inggin seperti mereka yang selalu tampil cantik dan di puja-puja para makhluk bernama cowok. Tapi aku masih bersyukur karena dengan tampangku yang pas-pasan ini teman-teman cowokku masih mau berteman denganku.
Saat latihan entah yang keberapa mataku terpana pada salah satu tubuh kurus jangkung dan keren yang berdiri tak jauh dari tempatku. Tak bosan rasanya memandang wajahnya, saat apapun dia terlihat keren di mataku bahkan ketika dia berkeringgat dan kelelahan dia tetap keren di mataku. Tak henti-hentinya aku mencuri-curi pandang padanya. Rasa capekku setelah latihan tiba-tiba hilang saat melihat dia tersenyum. Apa yang sedang aku lakukan ucapku dalam hati. Meskipun otak ini melarangku untuk melakukan hal ini tapi mataku tak bisa berhenti memandangnya. Bahkan ketika dia tidak terlihat hatiku menjadi gelisah. tak inggin rasanya aku beranjak pulang, tak rela rasanya melihat dia berjalan pulang meninggalkanku yang masih larut dalam pesonannya.
Sebelum melihat cowok itu aku sudah semangat 45 untuk berangkat latihan tapi kini semangat itu berubah menjadi semangat 100. Konyol memang kedengarannya tapi itulah aku yang sedang mengagumi seseorang. Hari-hariku terasa indah, hari yang ku nantikan hanyalah hari latihan di saat aku bisa melihat gerakan karatenya yang mantap dan melihat senyumnya yang sungguh mempesona. Kenapa aku bisa kagum pada seseorang yang bahkan aku sendiri tidak tahu namanya, entahlah saat itu di mana semua indraku hingga semuanya terlihat gelap dan hanya cowok itu yang bersinar di mataku. Tiada saat di mana aku tidak memikirkannya, dan saat aku mengenangnya maka bibir ini tidak bisa untuk tidak tersenyum.
Sang pengkhayal itulah julukan yang ku berikan pada diriku sendiri, sudah banyak buku-buku bekas yang ku gunakan untuk berkhayal. Entah sudah berapa cowok yang ku khayalkan menjadi pacarku tapi sampai saat ini mimpiku selalu hanya mimpi, walupun aku merasa sakit saat terjatuh dari mimpi yang ku buat sendiri tapi aku tak pernah jera aku selalu bermimpi dan bermimpi bahkan semakin lama mimpi-mimpiku semakin tidak mungkin untuk menjadi kenyataan. Kata orang mimpi adalah semangat tanpa ada mimpi hidup akan hampa, berdasarkan kata-kata itu akupun selalu membenarkan diriku sendiri untuk selalu bermimpi. Saat satu mimpiku musnah tak beberapa lama biasanya aku mempunyai mimpi baru yang lain.
Hari-hari terus berlalu, tapi semuanya tetap sama aku belum juga mengetahui siapa nama cowok ganteng itu. Tapi yang jelas kehadirannya selalu membuat semangat tumbuh berlipat lipat. Rasanya aku tak sabar menunggu pergantian hari, hari-hari tanpa melihat gerakan,wajah dan senyumnya terasa melelahkan untukku. Tidurku mulai di warnain dengan mimpi tentangnya, walaupun itu hanya di dalam mimpi aku sungguh merasa sangat bahagia seakan itu semua nyata. Aku telah terjebak dalam imajinasiku sendiri, aku terjebak dalam kebahagiaan yang semu yang ku ciptakan sendiri. Lama-kelamaan sahabatu mulai merasa curiga dengan perubahan sikapku.
Sahabatku pun mulai mencecarku dengan sejuta pertanyaan, aku tidak pernah sukses dalam berbohong mau tak mau akhirnya aku pun menceritakan semuannya pada sahabatku. Ita hanya bisa menggeleng-geleng mendengar semua ceritaku. Ita sudah sering mendengarku bercerita seperti itu sehingga dia tidak merasa heran sedikitpun, bahkan ita sudah pasti bisa menebak ending dari khayalanku yang tak mungkin jadi kenyataan. Ita hanya mengingatkanku agar aku lebih realistis dan jangan terlalu terpesona dengan wajah ganteng seorang cowok. Merasa kasihan padaku itapun mulai mengumpulkan infprmasi tentang cowok itu. Dari ita lah baru ku ketahui kalau cowok itu bernama toni dan dia baru duduk di bangku sma. Aku sedikit terkejut, kabar itu membuatku sedikit berfikir mana mungkin aku berpacaran dengan cowok yang lebih muda.
Saat latihan akupun mencoba untuk tidak memperhatikan toni, ku coba seminimal mungkin untuk memandang wajahnya. Tapi apa daya kali ini justru toni yang melatih kami, ya walaupun toni lebih muda dariku tapi toni lebih tinggi tingkatnya dariku. Mungkin memang aku yang merasa gr aku merasa toni lebih memperhatikanku dari pada teman-teman yang lain. Toni pun terlihat sering melihat ke arahku, tak ayal mimpi yang telah ku coba patahkan kini tumbuk kembali bahkan lebih subur dari pada yang dulu. Seperti mendapatkan anggin segar di kala terik matahari begitu menyegat aku makin tenggelam dalam perasaanku yang tidak beralasan. Siapa yang tidak akan luluh saat cowok impiannya terlihat lebih perhatian dan selalu memandangnya, akupun menyimpulkan bahwa toni juga memiliki suatu rasa padaku entah rasa apa itu.
Itulah kebodohanku membiarkan rasa kagumku berkembang hingga mengakar di hatiku tanpa ku coba untuk menyampaikan. Sungguh aku merasa tidak PD untuk menyampai semua rasa yang ku pendam ini. Sebagai seorang gadis aku lebih memilih menunggu pernyataan sang cowok, aku tidak punya nyali untuk mengatakan terlebih dahulu pada seorang cowok. Sementara menunggu sifat toni terlihat makin baik padaku dan hal itu semakin membuat hatiku berbunga-bunga. Memang kita tidak pernah bisa membaca fikiran dan maksud seorang cowok begitupun cowok sering tidak bisa mengartikan tindakan cewek. Aku merasa yakin kalau toni benar-benar memiliki rasa padaku hal ini kusimpulkan sendiri tanpa meminta penjelasan dari toni. Inilah yang ku sesalkan saat ini kenapa aku tidak berani menayakan perasaan toni terhadapku.
Ternyata semua sikap baik, perhatian, dan tatapannya padaku tidak berarti apa-apa toni benar-benar tidak memiliki rasa padaku. Aku benar-benar tidak percaya saat ita mengatakan kalau toni sudah memiliki cewek, bahkan ita berkata kalau aku bukan tipe toni. Katanya toni lebih suka cewek feminim, tenar, cantik dan yang pasti lembih muda dari dia. Otakku belum bisa mencerna semua kata-kata ita yang barusan ku dengar kemudian tiba-tiba mataku menangkap sesosok bayangan yang sudah ku kenal. Bayangan yang selama ini bermain-main di otakku, bermain dalam mimpiku, dan mewarnai hari-hariku. Di sebuah kafe tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat toni menggandeng cewek cantik, feminim, dan terlihat sangat modis. Toni menarik kursi untuk cewek itu, mereka bicara sanggat akrab tanggan toni tak pernah lepas menggenggam tanggan cewek itu seakan toni takut cewek itu lepas darinya. Tak cukup dengan semua pandangan itu bahkan toni mengecup kening gadis itu.
Detik itu juga aku baru menyadari apa yang di katakan ita tadi, bumi seakan bergoyang rasanya aku tidak kuat lagi untuk berdiri. Kemudian ita menahanku dan menggajakku untuk menjauh dari tempat itu. Bagai orang tolol akupun menuruti ita, aku berjalan dengan tatapan kosong dan mataku tak henti-hentinya menegeluarkan air mata. Sungguh mnyedihkan mengigat apa yang ku lakukan sore tadi untung tadi toni tidak melihatku jadi aku tidak perlu merasa malu bila bertemu dengannya nanti. Tinggal aku yang harus mengatur kembali hatiku agar semuanya bisa kembali normal.
Akupun terlelap karena lelah menangis, adzan subuh membangunkanku yang baru terlelap 3 jam. Segera ku ambil wudhu dan menghadap sang khalik. Aku menangis di hadapannya, aku memohon ampun padanya karena telah terlena pada cinta dunia, cinta yang tidak seharusnya terjadi karena cinta yang sesungguhnya haruslah di serahkan pada suamiku kelak. Aku meminta pada sang pencipta untuk menjadikan aku makhluk yang lebih baik di hadapanNYA. Setelah curhat akupun mengakhiri doaku dan akupun siap untuk beraktifitas menyambut segalanya dengan semangat dan sudut pandang yang baru. Mungkin juga karena aku telah lelah terjatuh pada mimpi yang ku buat sendiri, akhirnya ku putuskan untuk memberikan cintaku pada keluarga, sahabatku, orang tuaku, orang-oreng di sekitarku dan suamiku kelak. Amien…………