Sumpit in love
Setalah mendengarkan ceramah dosen yang panjang X lebar = luas (hehehehehe) perutkupun mulai protes, cacing-cacingku mulai bernyanyi lagu keroncong. Sebelum cacing-cacingku berteriak aku segera menarik sahabatku tercinta menuju tempat makan terdekat. Kebetulan kami berdua hari ini sepakat untuk menyantap mie ayam, umm…. Mendengar kata mie ayam cacing-cacing di perutku semakin protes ingin segera makan. Untung warung mie ayam langganan kami tidak jauh dari kampus jadi sebentar saja aku sudah sampai di raung itu, aku memesan mie ayam dan es jeruk kesukaanku. Beberapa saat kemudian datanglah mie ayam yang masih mengepul, aromanya sangat menggugah selera segera kami serbu mie ayam itu.
Saat sendok pertama hampir menuju mulutku tiba-tiba aku melihat seseorang yang makan menggunakan sumpit, munculah ide gilaku untuk memakai sumpit juga. Aku berfikir memakai sumpit itu mudah maka dari itu aku segera meminta sumpit pada pelayan warung itu. Saat sumpit sudah di tanganku aku merasa agak ragu karena aku belum bisa memakai sumpit. Hani sahabatku hanya tertawa melihat tingkahku, dia menyarankan agar aku memakai sendok dan garpu seperti biasa dari pada aku memepermalukan diriku sendiri. Tapi karena penasaran maka aku beranikan diri memagang sumpit itu di tangan kananku.
Baru memegangnya saja aku sudah kerepotan bagaimana makannya ucapku dalam hati. Sumpit sudah rapi ku pegang maka ku beranikan diri mengambil ayam yang potongannya agak kecil-kecil. Beberapa kali ku coba tapi ayam itu selalu jatuh dari sumpitku, kesal rasanya maka ku coba mengambil sawi setelah cukup lama mencoba akhirnya aku bisa mengambil sawi itu. Betapa senangnya aku tapi aku masih merasa aneh dengan cara makanku. Akhirnya ku coba mengambil mie dan ternyata mie itu lebih licin jadi lebih susah. Akhirnya karena cacing-cacingku yang sudah tidak sabar maka ku letaklan sumpit itu dan segera ku santap mie itu dengan garpu dan sendok. Baru beberapa suap aku baru menyadari kalau oramg-orang di sekitarku memeperhatikan aku yang tidak bisa menggunakan sumpit.
Ooohhhh…..betapa malunya diriku, entah berubah menjadi apa warna mukaku ini. Hani juga terpingkal-pingkal melihatku. Kata hani aku sangat lucu dan dia mnyarankan agar aku belajar terlebih dahulu di rumah dari pada belajar di warung makan dan harus di lihatin oleh banyak orang. Inggin rasanya saat itu aku lari pulang tapi cacing-cacing di perutku belum kenyang jadi mau tak mau akupun melanjutkan makanku dengan malu-malu. Mie ayam hani habis terlebih dahulu, memang bila urusan makan aku selalu kalah bila di bandingkan dengan hani. Segera ku habiskan mie ayam di mangkukku sebelum hani ngambek dan pulang duluan. Steleh selesai makan cacing diperutku menjadi tenang aku dan hani segera pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa hari setelah itu aku masih merasa malu bila mengenang sumpit itu, saat itu sempat ku lihat seseorang yang mengunakan sumpit itu adalah cowok ya lumayan lah penampilannya rapi dan bersih. Dan ternyata cowok itu kemarin juga tertawa melihat tingkahku dengan sumpit. Aku juga membeli sumpit untuk belajar di rumah tapi tidaka ada yang mengajariku di rumah jadi tidak ada kemajuan sedikitpun. Akupun memperingatkan diriku sendiri agar tidak menggunakan sumpit di tempat umum lagi. Beberapa kali hani menggodaku untuk menggunakan sumpit tapi untungnya aku tidak terpengaruh oleh ejekannya.
Entah sudah berapa minggu aku tidak berani mengginjakkan kakiku di warung mie ayam faforitku, malu sekali aku bila melihat penjual mie ayam itu. Hari ini hani memaksaku untuk makan mie ayam jadi mau tak mau akupun memberanikan diri untuk makan di warung itu. Aku berdoa di dalam hati semoga saja pemilik warung itu sudah lupa dengan wajahku. Ketika sampai di warung itu kami segera memesan tapi tiba-tiba hani harus pualang karena pnggilan darurat dari ayahnya. Tinggalah aku sendiri, sebenarnya aku juga ingin pulang tapi mie sudah terlanjur di pesan jadi terpaksa aku makan sendiri.
Di pojok warung itu ku lihat cowok yang waktu itu memakai sumpit, tapi kali ini cowok itu masih menunggu pesanan. Padahal aku ingin memperhatikan caranya mengunakan sumpit. Karena bosan menunggu mie dan duduk sendirian akupun mendengarkan lagu-lagu faforitku. Setelah cukup lama menunggu mie pesananku pun akhirnya tiba, hari ini warung cukup ramai ku lihat di mana-mana kursi penuh. Untung aku sudah dapat kursi fikirku dalam hati. Saat akan makan aku di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku. Dia meminta duduk di sampingku karena meja-meja sudah penuh semua. Akupun mengiyakan permintaan cowok itu toh aku juga akan segera pergi setelah mieku habis.
Tiba-tiba cowok itu mengajak berkenalan dan ternyata namanya adalah hamka, mungkin dia ngefans dengan pemain bola hamka hamza. Hamka juga kuliah di tempat yang sama denganku hanya saja saat ini dia sedang menyusun skripsi sehingga dia jarang ke kampus, pantas saja aku tidak pernah melihat wajahnya di kampus. Tenyata hamka cukup asyik untuk teman ngobrol, hamka pun menawarkan diri untuk mengajariku menggunakan sumpit. Walaupun agak malu segera ku terima tawaran itu karena aku benar-benar inggin bisa mengunakan sumpit. Cukup lama kami belajar menggunakan sumpit, hamka begitu sabar mengajariku menggunakan sumpit tak sedikitpun terlihat kekesalan di wajahnya walaupun aku sering menjatuhkan mie yang sudah ada di sumpitku.
Karena leleh akupun menyerah dan pamit untuk pulang pada hamka, tak lupa kami bertukar nomor hp agar aku bisa les menggunakan sumpit gratis. Beberapa kali kami bertemu di warung mie ayam itu, tiap bertemu tak bosan-bosannya hamka menggajariku menggunakan sumpit. Setelah hampir sebulan aku les mengunakan sumpit akupun sudah bisa memakai sumpit walaupun belum mahir tapi sudah lumayan lah. Minimal aku g akan mempermalukan diriku sendiri saat menggunakan sumpit di depan umum. Aku dan hamka pun semakin dekat. Hamka juga berkata bahwa dia inggin hubungan yang lebih serius.
Sungguh aku tak menyangka perkenalan kami yang bermula dari sumpit bisa sampai di jenjang pernikahan. Tak henti-hentinya aku bersyukur pada sang kuasa karena memberikan ku pendamping hidup seperti hamka. Kami berjanji akan hidup bahagia selamanya semoga saja kami bisa menepati janji kami. amien…….
_____



