Gara-gara ban
Seperti hari rabu di minggu-minggu sebelumnya aku ikut latihan karate di lapangan, di daerah kami belum ada tempat latihan khusus untuk karate jadi kami menggunakan lapangan yang ada. Bukan lapanggan dengan rumput tapi lapanggan yang sudah di beri ubin oleh karena itu tak jarang kakiku melepuh akibat terlalu semangat dalam latihan. Begitu pula yang terjadi hari ini kakiku terasa sanggat panas padahal latihan baru berjalan satu jam. Setelah istirahat minum kami melanjutkan latihan lagi hingga pukul 5 sore, setelah itu kami pendinginan dan bubar. Sebelum pulang ke rumah masing-masing aku dan teman-temanku selalu nongkrong terlebih dahulu sambil mengeringkan keringgat. Sore ini kebetulan ada tukang rujak yang mengkal jadi kami putuskan untuk membeli rujak.
Betapa lezatnya makan rujak di sore hari, setelah selesai memakan rujak beberapa temanku memutuskan untuk pulang tapi entah mengapa aku merasa malas untuk pulang. Sore ini mendung jadi anggin bertiup cukup benyak, hal ini membuatku betah duduk di santai di bawah pohon. Setelah puas menikmati anggin aku putuskan untuk pulang karena sebentar lagi akan masuk waktu magrib. Baru sebentar saja aku mengendarai motor aku merasa ada yang aneh dengan motorku, dan benar saja setelah ku perhatikan ternyata ban depan motorku kempes. Tiba-tiba ada rasa takut dan khawatir menelusup di hatiku.
Kutulehkan kepalaku berkali-kali berharap menemukan tempat tambal ban, jam segini tambal ban pasti sudah banyak yang tutup fikirku dalam hati. Setelah berjalan cukup lama akhirnya aku menemukan tempat untuk menambal ban. Sayangnya di tempat tambal ban itu banyak cowok, hal ini cukup membuatku risih tapi mau bagai mana lagi banku harus di tambal jika aku mau selamat sampai di rumah. Untung di tempat itu ada tivi jadi aku berusaha mengabaikan para cowok-cowok yang sedang berceloteh dengan menonton tv. Tak di sangka malah cowok-cowok itu duduk-duduk bersamaku untuk meneonton tv tapi mereka cukup sopan padaku. Mereak juga menjaga jarak dariku, ada beberapa yang bertanya padaku danku jawab dengan ramah.
Hampir saru jam aku menunggu tapi ban motorku belum juga selesai di tambal, aku mulai merasa jenuh dan bĂȘte. Ku coba Tanya pada cowok yang menambal katanya sebentar lagi. Dengan muka cemberut akupun kembali duduk dan menonton tv. Tak lama setelah itu datang ibu-ibu yang inggin mencuci motor, ya minimal aku punya satu teman cewek di sini ucapku dalam hati. Tapi ternyata ibu itu pendiam dan aku tak berani untuk memulai pembicaraan dengannya. Setelah itu datanglah seorang cowok mengendarai motor ninja. Mau tak mau akupun sedikit melirik seperti apa wajah cowok yang mengendarai motor keren itu, ah ternyata pengendara motor itu menggunakan kaca mata dan cardigan. Anak mami ucapku dalam hati.
Dengan dua orang di sampingku aku merasa makin bĂȘte, kakiku semakin terasa sakit, badanku capek dan bau keringat sungguh rasanya aku inggin menagis saat itu juga. Aku putuskan untuk bermain game di hapeku tanpa memeprdulikan orang di sekelilingku. Bebrapa kali cowok yang menegendarai motor tadi menelepon dan kemudian diam seperti memperhatikan sesuatu. Hingga motor ibu-ibu selesai di cuci motorku belum juga selesai di kerjakan. Akuoun mulai merasa tak sabar berkali-kali aku bertanya pada orang yang menambal dan katanya sebentar lagi. Dengan hati yang kesal kuhempaskan kembali tubuhku di kursi dan kontan saja cowok yang ada di depanku merasa aneh.
Akupun memilih untuk mengabari orangtuaku agar mereka tidak khawatir. Hingga isya motorku baru selesai di kerjakan. Segera ku bayar dan aku kabur dari tempat itu. Tak kupedulikan omongan cowok-cowok itu yang menanyakan nomor hapeku. Tak lupa ku ucapkan terima kasih pada mereka yang telah membantu menambal motorku. Ku ucapkan alhamdulilah, bismilah dan kemudian aku melaju menuju rumahku tercinta. Sampai di rumah aku segara makan seperti orang yang belum makan selama 3hari. Sumpah saat itu aku benar-benar merasa lapar, kakiku juga sehera ku rendam dan kemudian aku mandi. Tak seperti malam-malam biasanya aku tertidur cepat mala mini bahkan aku bangun sedikit kesiangan untuk sholat subuh.
Jam menunjukan pukul 7 akupun segara berangkat ke kantor untuk bekerja, kebetulan ini adalah akhir bulan jadi banyak pekerjaan yeng menumpuk di atas meja kerjaku. Setelah beberapa hari bekerja barulah pekerjaanku itu terselesaikan. Tenag rasanya sudah menuntaskan tanggung jawab jadi aku bisa berakhir pecan denagn tenang. Sabtu pagi aku mencuci baju dan sepatu, ya karena kantorku tutup pada hari sabtu. Hari sabtu adalah hari yang paling aku sukai karena aku bisa bersantai dan bermalas-malasan. Setelah selesai bersih-bersih akupun siap sedia di depan laptop untuk meneonton Kdrama faforitku.
Hari minggu bukan hari libur untukku karena hari itu aku harus bangun pagi dan latihan karate bersama teman-teman. Setelah mandi akupun segera berangkat menuju tempat latihan dengan semangat 45. Sudah satu bulan aku mengikuti latihan tapi anehnya aku belum merasa bosan sedikitpun padahal biasanya aku paling cepat bosan terhadap hal-hal seperti ini. Pagi ini tampaknya matahari juga bersemangat 45, baru 1jam aku latihan keringatku sudah mengucur deras. Begitu pula dengan teman-temanku yang lain warna muka mereka sudah berubah warna menjadi merah, entah seperti apa warna mukaku saat itu. Akhirnya sinpei memberikan watu istirahat pada kami. kami pun segera berlari untuk membeli minuman dan mengelap keringat.
Sekilas aku melihat sebuah motor yang cukup familiar dan ternyata itu adalah motor sinpai yang baru saja tiba. Saat hari minggu seperti ini memang cenderung lebih banyak simpai yang melatih tapi sayang sinpei kami tua-tua dan yang muda masih sma terlalu muda untuk ku jadikan gebetan. Latihan pun kembali di mulai kali ini kami berlatih kata1 dan 2 yang mengajar sinpei baru entah siapa karena kami tidak pernah mengenalkan diri saat latihan seperti ini. Lumayan juga sinpei yang ini fikirku dalam hati. Sayangnya aku tak bisa banyak berfikir karena gerakan kata sudah menyita seluruh konsentrasiku, aku berusaha melakukan gerakan gerakan semampuku tetapi tetap saja ada yang salah dari gerakanku.
Seperti biasa saat latihan selesai aku dan sahabatku nongkrong terlebih dahulu dan kali ini kami memutuskan untuk membeli es cream sambil mengeringkan keringat. Para sinpei juga belum beranjak mereka malah sibuk ngombrol-ngobrol dan tertawa. Kamipun memutuskan untuk duduk di bawah pohon kali ini sahabatku bercerita tentang pacarnya akupun berusaha memberi nasehat terbaik yang ku bisa. Malu juga sich sebenarnya member nasehat pada sahabatku toh pada kenyataannya aku tidak pernah sukses dalam suatu hubungan cinta. Saking asyiknya bercerita kami tidak menyadari kalau ada orang baru yang duduk di sampingku.
“hai”kata seseorang di sebelahku.
Kaget, kontan akupun menengokan kepalaku kea rah suara yang ada tepat di sampingku. Dengan tatapan binggung aku memadang cowok itu, saking bingungnya aku tidak menjawab sapaannya.
“hai”dia berkata lagi sambil tersenyum ke arahku.
“hai juga,kirain tadi salah orang pei?”jawabku binggung.
“yang rabu kemarin tambal ban kan?”
“he’eh,kok tau pei?”tanyaku binggung
“aduh lupa ya?kenalin joni”ucapnya sambil mengulurkan tanggan.
“risma”jawabku pendek.
Sinpei joni pun berkenalan dengan ita sahabatku, setalh lama bercakap-cakap aku sadar bila sinpei joni adalah cowok yang ku fikir anak mami, ya cowok yang bertemu ketika menambal ban. Sugguh sulit di percaya penampilan joni berubah sekali. Dia terlihat gagah memakai seragam karate bahkan dia tidak memakai kaca mata seperti pertama kali kami bertemu. Sejak perkenalan itu kamipun mejadi lebih dekat, aku sangat gembira karena joni sering melatihku di luar jadwal latihan jadi grakan-gerakanku semakin mantap. Joni memenuhi beberapa kriteria cowok idamanku dan aku berusaha menerima kekurangnnya. Joni juga bisa menerima seabreg kekuranganku. Begitulah kisah cintaku yang selanjutnya, entah bertahan sampai berapa lama tunggu saja kisah selanjutnya,hehehehehehe…………………….
***









