OPAN
“Abah bilang ingin menjodohkanku dengan anak sahabatnya, ya si Opan dari Palembang itu! Oh, my god! Aku terduduk di lantai saking kagetnya.”
Sepenggal kalimat di buku yang ku baca itu mengingatkanku pada seseorang yang bernama Opan. Opan bukan orang yg sangat tampan atau keren tapi entah mengapa malahan sikap cueknya yang menarik di mataku. Selama ini aku biasa di perhatikan dimanapun baru kali ini aku merasa dicuekin terutama oleh seorang cowok. Ya beginilah aku terlalu ge-er dan suka bermimpi tentang seseorang yang kelak akan menjadi pendampingku, pembimbingku, seseorang yang ku fikir akan merasa sangat beruntung mendapatkanku.
Pertemuan kami berawal dari tugas kantor yang mengutusku untuk mengambil sejumlah uang untuk keperluan kantor yang mendesak. Karena tugasku di kantor sedikit maka aku yang mendapat tugas ini. Sejujurnya aku merasa malas untuk datang ke bank ini karena nasabah bank ini banyak dan antriannya sangat panjang. Malahan sempat ada ibu-ibu yang bercerita padaku kalau dia sudah mengantri selama dua hari. Huft,,,,membayangkannya saja sudah membuat ku malas melangkahkan kaki ke bank itu.
Karena tak ada pilihan lain maka ku mantapkan langkahku menuju bank tersebut, dan ternyata dugaanku benar antriannya puanjang. Sejenak aku sempat berfikir untuk kembali ke kantor, tapi membayangkan bosku yang mengomel-ngomel mebuatku masuk antrian. Melihat banyaknya antrian aku berfikir kalau antrian ini tidak akan habis karena sebentar lagi jam makan siang. Aku mendapatkan nomor urut 57 sedangkan saat ini baru nomor antrian 27 maka ku putuskan untuk mencari tempat duduk yang cukup nyaman. Setelah merasa jenuh menunggu kemudian aku teri ngat akan buku yang aku bawa di tas. Kulihat sekelilingku orang-orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku sempat berfikir apa tidak aneh jika aku membaca buku di tempat yang seperti ini.
Dari pada bosan akhirnya aku membuka buku yang kubawa. Ku baca satu demi satu halaman buku itu, entah sejak kapan aku suka dengan buku yg ku tahu akhir-akhir ini aku sering sekali meminjam buku. Aku merasa bisa mengetahui apapun melalui buku, apalagi novel islami. Belum lama aku membaca tiba-tiba konsentrasiku membaca hilang karena rebut-ribut disekitarku. Ternyata ada ganguan jadi bank meminta nasabah agar datang lagi nanti setelah jam makan siang, nasabah yang sudah lama mengantri merasa sangat kecewa begitupun aku. Dengan rasa dongkol ku tinggalkan bank itu tanpa menyadari sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan semua polah tingkahku.
Dengan muka kusut aku kembali ke kantor untuk melapor pada bosku, mungkin karena tampangku yang super duper kusut bosku pun memerintah staf yang lain untuk menggantikanku antri di bank. Orang yg beruntung itu adalah seniorku yang biasa ku panggil om wito. Om wito kenal dengan salah satu petugas di bank itu makanyya bos memilih om wito untuk tugas ini. Kebetulan karyawan di kantor tempatku bekerja sudah berstatus bapak semua hanya aku yg masih single, jadi kesannya bapak-bapak di kantorku lebih mengayomi aku yang kebetulan juga satu-satunya staf cewek ya walaupun baru tenaga bantu.
Setelah makan siang om wito langsung meluncur menuju bank dan yang lebih mengherankan belum ada 1jam om wito sudah kembali membawa uang yang baru di ambil dari bank. Kesal rasanya kenapa tadi aku harus antri begitu lama sedangkan om wito hanya perlu waktu kurang dari 1 jam. Iseng-iseng aku bertanya pada om wito kenap dia bisa begitu cepat padahal tadi antrian masih cukup banyak. Sambil tertawa om wito menjawab pertanyaanku.
“ada salam mei buat kamu!”
“hah?dari siapa om?”tanyaku penasaran
“teller di bank yg namanya opan tu”om wito terus tertawa melihat kebingungan di wajahku.
“perasaan g kenal om”jawabku sekananya
“masak, g tau tu yg penting salamnya dah ku sampein ya.”kata om wito sambil berlalu.
Aku hanya bisa duduk sambil benggong, masih binggung dengan arah pembicaraan om wito tadi. Sampai di rumahpun aku masih memikirkan perkataan om wito tadi. Merasa tidak menemukan jawaban apapun akhirnya ku putuskan untuk melupakan hal itu, mungkin saja om wito hanya menggodaku. Besoknya di kantor aku mendapatkan tugas yang sama lagi yaitu ke bank kali ini bos memintaku untuk mengirimkan uang untuk adiknya yang kuliah di jawa. Karena tidak ada pekerjaan dan penasaran dengan orang yang namanya opan akupun memeutuskan untuk pergi ke bank.
Sampai di bank matakupun mulai beraksi mencari-cari papan nama yang bertuliskan OPAN. Tak susah ternyata menemukan nama itu, tak jauh dari tempatku berdiri terpampang nama OPAN. Dari mukannya sepertinya opan tidak asing buatku, sepertinya aku sudah pernah melihatnya di bank ini beberapa waktu lalau. Ya dasarnya aku yang cuek jadi aku baru tahu kalau dia yang bernama Opan. Sambil mengantri akupun memperhatikan opan. Orangnya lumayan ucapku dalam hati. Aku merasa sedikit ge-er karena mendapat salam darinya kemarin. Tapi anehnya sikap opan sama sekali tidak menunjukan bahwa dia mengirim salam padaku kemarin, dia malah bersikap sangat cuek.
Mungkin benar kalau om wito hanya bercanda fikirku, tapi anehnya saat aku kembali ke rumah wajah Opan masih terbayang di inggatanku. Kenapa dia cuek?kenapa dia mengirim salam?itu yang selalu terngiang di kepalaku. Ku coba-coba menebak tapi nihil aku tak menemukan alasan apapun. Akhrinya kesimpulanku bulat memang om wito lah yang bercanda. Setelah kejadian itu aku beberapa kali datang lagi ke bank itu dan ternyata reksi opan masih sama, bahkan lebih cuek seolah-olah aku tak ada. Menyebalkan fikirku, kenapa dia tidak menyapa atau sekedar senyum padaku. Padahal aku pernah meninggalkan nomor HP pada temannya karena transaksiku harus di tunda hingga besok. Teman Opan itu berjanji akan menghubungi ku kalau transaksinya sudah berhasil.
Tapi setelah aku tunggu 1hari tidak ada kabar mengenai transaksi yang aku lakukan, keesokan harinya ku putuskan untuk datang ke bank itu dan ternyata transaksiku sudah berhasil. Teller teman opan meminta maff padaku karena sibuk jadi dia tidak sepat menghubungiku. Yah pupus sudah harapanku padahal aku berharap opan lah yang akan menghubungiku. Beberapa hari kemudian aku masih berharap kalu opan akan menghubungikuu tapi ternyata nothing. Memang ada beberapa nomor baru di HPku, beberapa hari yang lalu teman lamaku meghubungiku lagi. Walaupun bukan orang yang ku harapkan tapi setidaknya ada suasana baru dengan kehadiran teman lamaku itu. Sedikit-demi sedikit akupun melupakan opan, tapi kadang aku masih merasa geregetan juga ketika tak sengaja bertemu dengannya. Opan tetap saja cuek, entah kenapa tapi ya sudahlah masih banyak kan cowok yang lebih dari pada dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar